5 Arsitektur Peninggalan Belanda Terbaik Di Indonesia

Dani Febrian
· 1 tahun yang lalu · 15 min read
5 Arsitektur Peninggalan Belanda Terbaik di Indonesia

Sebagai bentuk kolonialisme yang terjadi pada beberapa waktu silam, negeri tercinta kita memiliki banyak bangunan bersejarah peninggalan Belanda yang masih berdiri kokoh hingga saat ini. Arsitektur khas Eropa dengan sentuhan tropis ini menjadi saksi bisu perjalanan sejarah bangsa. Berikut adalah lima arsitektur peninggalan Belanda terbaik di Indonesia:

1. Lawang Sewu – Semarang
Lawang Sewu adalah salah satu bangunan kolonial paling terkenal di Indonesia. Dibangun pada tahun 1904 sebagai kantor pusat Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS), gedung ini memiliki banyak pintu dan jendela besar yang memberikan kesan megah. Arsitekturnya mengadopsi gaya Nieuwe Kunst yang populer di Belanda saat itu, dengan ventilasi yang dirancang untuk menyesuaikan dengan iklim tropis Indonesia.

2. Gedung Sate – Bandung
Gedung Sate dibangun pada tahun 1920 dan awalnya difungsikan sebagai kantor Departemen Pekerjaan Umum Hindia Belanda. Desainnya menggabungkan gaya arsitektur klasik Eropa dengan elemen lokal, seperti ornamen khas Jawa. Bagian paling ikonik dari bangunan ini adalah menara dengan ornamen berbentuk tusuk sate di puncaknya. Saat ini, Gedung Sate menjadi kantor Gubernur Jawa Barat dan salah satu ikon Kota Bandung.

3. Kota Lama – Semarang
Kawasan Kota Lama Semarang sering disebut sebagai "Little Netherlands" karena banyaknya bangunan bergaya kolonial di area ini. Salah satu bangunan paling terkenal adalah Gereja Blenduk, yang dibangun pada tahun 1753 dengan kubah besar khas gereja-gereja Eropa. Kawasan ini juga memiliki bangunan kantor, gudang, dan rumah klasik yang menggambarkan kejayaan Semarang sebagai pusat perdagangan pada masa kolonial.

4. Istana Maimun – Medan
Meskipun merupakan istana Kesultanan Deli, Istana Maimun dibangun dengan pengaruh arsitektur Belanda yang kuat. Dibangun pada tahun 1888 oleh Sultan Ma'mun Al Rasyid Perkasa Alamsyah, istana ini menggabungkan unsur arsitektur Belanda, Melayu, dan Islam. Salah satu bukti pengaruh kolonial adalah penggunaan furnitur khas Eropa dan desain interior yang menyerupai bangunan kolonial Belanda.

5. Museum Fatahillah – Jakarta
Dikenal juga sebagai Museum Sejarah Jakarta, bangunan ini dulunya adalah Balai Kota Batavia yang dibangun pada tahun 1707. Arsitekturnya meniru gaya bangunan Paleis op de Dam di Amsterdam, dengan struktur yang megah dan simetris. Museum ini menyimpan berbagai koleksi sejarah tentang Jakarta, termasuk perabotan era kolonial, peta kuno, dan prasasti penting. Bagi Anda yang ingin mengunjungi situs ini namun berdomisili di luar pulau Jawa, tak perlu khawatir, Anda bisa membeli tiket kapal dan membawa keluarga menuju museum fatahillah

Peninggalan arsitektur Belanda di Indonesia bukan hanya sekadar bangunan bersejarah, tetapi juga cerminan perpaduan budaya antara Eropa dan Nusantara. Keberadaan bangunan ini tetap dijaga dan dimanfaatkan sebagai objek wisata serta pusat sejarah yang memperkaya warisan budaya Indonesia.