Selain destinasi lagi bahwa situs sejarah masih menjadi primadona bagi para pelancong yang ingin berwisata bersama keluarga atau para sahabat dan kolega. Berbagai situs sejarah di Indonesia tersebar di seluruh pulau. Situs tersebut bisa dalam bentuk prasasti, peninggalan alat buru, tempat tinggal, atau berbentuk tempat aktivitas religi seperti candi. Situs candi di Indonesia sangatlah beragam dan bertugas sebagai pendongeng yang paling otentik bagi para pengunjung yang ingin menggali kisah dan peradaban bangsa Indonesia saat itu.
Salah satu pulau dengan ragam candi menarik adalah Pulau Sumatra. Dari Utara hingga Selatan, candi-candi tersebut tersebar untuk menceritakan kisah peradaban Indonesia kepada para pelancong yang datang. Perjalanan mengelilingi situs tersebut dapat Anda lakukan dengan jalur darat menggunakan kendaraan dengan memesan tiket kapal menuju Sumatera, dan Anda dapat membaca artikel ini
Candi Orang Kayo Hitam
Candi pertama kali ditemukan pada tahun 1999 ini terletak di terletak di Desa Simpang, Kecamatan Berbak, Kabupaten Tanjung jabung Timur, Provinsi Jambi. Struktur bata kuno diduga merupakan reruntuhan, dimana banyak artifak seperti sejumlah keramik asing, logam berupa lempengan yang berisi tulisan mantra. dan sebuah tangan arca ditemukan pada beberapa waktu lalu. Posisinya yang cukup strategis dan dekat dengan Kota Jambi menjadikan situs ini sering dikunjungi.
Candi Muaro Jambi
Bila membicarakan apa salah satu kompleks candi terbesar, maka Candi Muaro Jambi ini menjadi kompleks percandian terbesar di Asia Tenggara, dengan luas 3981 hektar. Kompleks percandian ini memiliki pengaruh agama Hindu-Buddha telah di calonkan ke UNESCO untuk menjadi Situs Warisan Dunia sejak tahun 2009 silam. Kompleks percandian ini terletak di Kecamatan Maro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi, Jambi, Indonesia. Kompleks percandian Muaro Jambi terletak pada tanggul alam kuno Sungai Batanghari. Situs ini mempunyai luas 12 km persegi, panjang lebih dari 7 kilometer serta luas sebesar 260 hektar yang membentang searah dengan jalur sungai. Situs ini berisi 110 candi yang sebagian besar masih berupa gundukan tanah yang belum dikupas (Menapo).
Candi Muara Takus
Situs Candi Muara Takus merupakan sebuah situs candi Buddha yang terletak situs di desa Muara Takus, Kabupaten Kampar, Riau, Indonesia. Situs ini berjarak kurang lebih 135 kilometer dari Kota Pekanbaru. Kompleks candi ini terdiri dari beberapa bangunan bernama Candi Sulung, Candi Bungsu Mahligai Stupa dan Palangka. Candi ini belum dapat di pastikan kapan didirikannya namun dugaan ada pada abad ke 7 hingga ke 9. Arsitektur bangunan stupa Candi Muara Takus sendiri sangatlah unik karena tidak ditemukan di tempat lain di Indonesia. Bentuk candi ini memiliki kesamaan dengan stupa Budha di Myanmar, stupa di Vietnam, Sri Lanka atau stupa kuno di India pada periode Ashoka, yaitu stupa yang memiliki ornamen sebuah roda dan kepala singa, hampir sama dengan arca yang ditemukan di kompleks Candi Muara Takus, namun candi ini dianggap telah ada pada zaman keemasan Sriwijaya.
Candi Bumi Ayu
Provinsi Sumatera Selatan juga memiliki komplek percandian yang diklaim menjadi satu-satunya komplek percandian yang memiliki pengaruh Hindu dari aliran Siwa.Kompleks candi Bumi Ayu terdapat 9 buah candi yang telah ditemukan dan 4 di antatanya telat di pugar. Kawasan Candi Bumi Ayu ini dikenal dengan situs candi peninggalan Hindu dari aliran Siwa. Dari hasil penelitian Candi Bumi Ayu ini merupakan salah satu kompleks candi-candi terbesar di Indonesia dan memberikan pengaruh budaya hindu di abad pertengahan di bumi Nusantara.
Candi Lesung Batu
Candi Lesung Batu adalah situs arkeologi yang terletak di Kecamatan Rawas Ulu, Kabupaten Musi Rawas Utara, Sumatera Selatan, Indonesia. Situs ini merupakan sebuah candi peninggalan budaya dari masa klasik Hindu-Buddha di Indonesia. Candi tersebut terletak di perkebunan karet milik masyarakat yang saat ini masih produktif. Situs yang mempunyai latar belakang agama Hindu ini mempunyai Kondisi berupa gundukan tanah yang dibagian permukaannya terdapat sebaran batu kuno.