Setidaknya dalam lima tahun terakhir, Labuan Bajo menjadi perbincangan banyak orang di media sosial musabab keindahan dan keasrian alamnya. Pembangunan untuk mendukung tumbuh dan majunya kawasan di Kota Seribu Senja ini dilakukan secara masif oleh Pemerintah Indonesia, bahkan Presiden Joko Widodo melabeli tempat tersebut dengan kawasan pariwisata super premium (Akhrani & Azhar, 2021). Destinasi ini menjadi salah satu andalan nusantara yang dilihat oleh dunia. Pada bulan Mei 2023, Labuan Bajo dijadikan sebagai tempat dilaksanakannya Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN 2023. Main venue dari gelar acara negara-negara Asia Tenggara tersebut adalah Hotel Meruorah milik PT. Indonesia Ferry Properti (IFPRO) yang berada di Kawasan Marina Labuan Bajo. IFPRO adalah anak usaha gabungan dua BUMN yakni PT. ASDP Indonesia Ferry (Persero) dan PT. PP
(Persero) Tbk.
Menilik kebelakang tentang kawasan Marina Labuan Bajo sebelum dilakukan penataan dan pembangunan oleh pemerintah serta stakeholders, wilayah ini dahulu digunakan oleh
masyarakat setempat untuk pelelangan ikan. Masyarakat lokal yang adalah suku bajo dulu mayoritas berprofesi sebagai nelayan tradisional (Sanjaya dkk, 2018). Sebagai warga yang
mempunyai mata pencaharian dari hasil laut, mereka menjual hasil tangkapannya di pasar pelalangan ikan di kawasan yang sekarang dijadikan sebagai kawasan Marina. Kawasan
tersebut dahulu belum ada pengelolaan secara baik oleh pemerintah setempat sehingga tidak tertata dan kebersihannya belum dijaga dengan baik.
Setelah disadari bahwa Labuan Bajo memiliki potensi luar biasa dalam hal pariwisata pulau-pulaunya, pemerintah mulai memperhatikan lebih dalam mengenai kawasan Marina Labuan Bajo. Kawasan ini dapat dikelola dan digarap untuk dijadikan sebuah waterfront yang eksotis dengan sekaligus merelokasi tempat pelelangan ikan tersebut dilokasi lain dengan lebih tertata. Tempat pelelangan ikan tersebut kemudian dipindahkan ke Kampung Ujung, lokasi salah satu pintu masuk untuk menuju ke pusat keramaian di Labuan Bajo. Perpindahan tersebut resmi dilakukan pada November 2018. Setelah relokasi, Marina Labuan Bajo kemudian dibangun dengan pembagian lima zona yakni zona 1 promenade Bukit Pramuka, zona 2 promenade Kampung Air, zona 3 plaza dan ruang publik, zona 4 plaza hotel, serta zona 5 promenade struktur kantilever.
PT. ASDP Indonesia Ferry (Persero) pada 2023 menambah keindahan Kawasan Marina dengan membuat rumah keong di area pelabuhannya. Rumah keong “Mbaru Niang” adalah
bangunan ruang tunggu penumpang kapal ferry sekaligus loket untuk menukar tiket online yang sudah dipesan dengan boarding pass. Transformasi pembelian tiket kapal ferry di Labuan Bajo kini sudah berbasis digital yaitu melalui website trip.ferizy.com sehingga semakin mudah dan efisien bagi pengguna jasa.Labuan Bajo dengan keindahan dan keasrian alamnya kini menjadi lebih bernilai, ciamik, dan eksotis dengan hadirnya Kawasan Marina sekaligus terelokasinya tempat pelelangan ikan yang dulunya kurang tertata dan kebersihannya tak terjaga menjadi lebihterkelola. Hal tersebut berdampak baik terhadap tumbuhnya wisatawan baik lokal maupun internasional.