Tersembunyi di dalam rimbunnya hutan dan tingginya bukit, Desa Wae Rebo adalah salah satu desa adat Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang masih asri dan terjaga keasliannya. Wae Rebo menjadi salah satu desa tertinggi di Indonesia karena terletak di ketinggian sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut. Dari terpencilnya lokasi hingga menjadi salah satu desa terindah di dunia dan dikenal secara luas, keberhasilan dalam menjaga keotentikan budaya Desa Wae Rebo perlahan mulai diakui dunia.
Desa Waerebo berawal dari migrasi pelayar Minangkabau yang Bernama Empo Maro dan keluarga untuk menghindari konflik dari serbuan penjajah pada abad ke-18. Untuk menghindar dari penjajahan Belanda, mereka berlayar jauh dari Sumatera hingga Nusa Tenggara Timur untuk mencari tempat yang aman, lalu memutuskan untuk mendirikan pemukiman di lokasi terpencil ini. Mereka lalu membangun rumah-rumah adat dengan bentuk yang sangat ikonik bernama Mbaru Niang. Berbentuk kerucut dan terbuat dari jerami menjadi ciri khas yang otentik desa adat ini. Para penduduk setempat membangun rumah-rumah ini dari bahan-bahan alami yang mereka dapat dari lingkungan sekitar, menjadi bukti kejeniusan arsitektur Indonesia pada dahulu kala.
Arti dari Mbaru Niang sendiri yakni Mbaru berarti rumah, sedangkan kata Niang berarti tinggi dan bulat. Filosofi keseimbangan dalam kehidupan di alam menjadi dasar dari berdirinya rumah-rumah tersebut. Melihat potensi yang dihadirkan tanpa mengurangi keotentikan adat istiadat di Wae Rebo, masyarakat dan pemerintah setempat mengenalkan pada publik secara luas dengan konsep ekowisata.
Tak hanya melihat keindahan alam dan mengagumi arsitektur Mbaru Niang, para wisatawan diperkenalkan berbagai kebudayaan asli saat melihat upacara adat Penti, Pertunjukan Caci, menanam kopi dan melihat para penduduk membuat kerajinan tangan asli Nusa Tenggara Timur yang bisa dibeli oleh para wisatawan sebagai cinderamata
Highlight utama kebudayaan asli desa Wae Rebo tentu ada pada upacara Penti dan pertunjukkan Caci. Upacara Penti merupakan sebuah bentuk syukur masyarakat lokal kepada Tuhan dan leluhur untuk musim panen yang baik serta berkah untuk tahun-tahun mendatang. Mulai dari persembahan makanan khusus, tarian hingga nyanyian asli menjadi sebuah pengalaman yang berkesan bagi para wisatawan. Penti tak menjadi satu-satunya ritual yang ada pada desa ini. Caci juga menjadi pertunjukkan yang ditunggu oleh para wisatawan. Dua pemuda asli desa Wae Rebo mempertunjukkan kebolehan bela diri dan seni berperang satu sama lain lengkap dengan senjata cambuk dan perisai. Meskipun tampak seperti pertarungan, Caci mengandung filosofi yang kaya dan merupakan tarian yang menampilkan keberanian serta keterampilan.
Dengan tekad menjaga kearifan lokal dan mengembangkan ekowisata berkelanjutan, Desa Waerebo telah menerima pengakuan internasional. Pada tahun 2012 kemarin, Desa Wae Rebo menerima penghargaan bergengsi seperti UNESCO Asia-Pacific Heritage Award for Cultural Heritage Conservation. Desa Wae Rebo menempati peringkat kedua sebagai kota kecil terindah di dunia versi majalah Time Out. Lalu yang paling terbaru adalah pada tahun 2021 lalu, desa Wae Rebo menjadi salah satu dari 3 desa yang mewakili Indonesia dalam ajang Best Tourism Village.
Mendukung akses transportasi yang menjangkau seluruh wilayah Indonesia, PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) melayani para wisatawan ataupun masyarakat yang ingin ke Desa Wae Rebo melalui Pelabuhan Labuan Bajo. Setidaknya ada beberapa kapal ferry yang melayani kebutuhan pengguna jasa untuk menuju Labuan Bajo, salah satunya adalah KMP Sangke Palangga yang berangkat dari Tanjung Bira, Sulawesi Selatan. Untuk membeli tiket kapal ferry ke Labuan Bajo cukup mengklik link ini.
Berkunjung ke Wae Rebo adalah kesempatan untuk merasakan langsung kehidupan masyarakat adat yang harmonis dengan alam, sekaligus mendapatkan pengalaman tak terlupakan yang jarang ditemukan di tempat lain.