Selamat Ka Troh u Aceh,
Sapaan bagi para pelancong lokal maupun mancanegara saat datang ke Aceh, daerah yang identik dengan agama islam hingga mendapat julukan Serambi Mekah. Aceh juga menjadi daerah istimewa musabab konsistennya Aceh menerapkan syariat islam dalam aktivitas bermasyarakat. Kentalnya nilai keislaman di Aceh tidak bisa lepas dari nama besar Sultan Iskandar Muda, pahlawan Aceh yang namanya diabadikan menjadi nama satu-satunya Bandara di provinsi paling barat tersebut.
Bicara soal Aceh tidak bisa lepas dari tragedi besar yang terjadi pada penghujung 2004 silam. Minggu, 26 Desember 2004, kala sebagian besar masyarakat Aceh menikmati hari libur dengan bersantai di rumah hingga bertamasya ke tepi pantai, sebuah bencana besar terjadi. Gempa dangkal berkekuatan 9,3 magnitudo terjadi di dasar samudera hindia. Gempa besar ini kemudian memicu terjadinya gelombang tsunami setinggi 30 meter dengan kecepatan mencapai 360km/jam yang dalam sekejap mata meluluhlantakkan pesisir Aceh.
Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 227.898 jiwa meninggal dalam bencana alam tersebut. Pasca tragedi yang menjadi duka dunia itu, Aceh bak kota mati, daerah pesisir Aceh hancur total. Namun bantuan dari berbagai penjuru dunia segera datang. Gerakan-gerakan kemanusiaan berbondong-bondong hadir di Aceh dan menjadi awal harapan bangkit kembalinya Aceh pasca bencana yang begitu memilukan.
Kala Aceh Kembali Bangkit
Membangun kembali Aceh pasca tsunami merupakan pekerjaan besar pemerintah yang harus segera dilakukan. Susilo Bambang Yudoyono (SBY) yang kala itu menjabat presiden bergegas membentuk badan khusus yaitu Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias guna mempercepat pembangunan Aceh termasuk infrastruktur transportasi seperti pelabuhan dan bandara.
Pelabuhan Ulee Lheue Aceh yang ikut hancur diterjang gelombang tsunami tidak bisa sama sekali melakukan aktivitas penyeberangan kapal. Seluruh bangunan dan fasilitas di pelabuhan itu hancur lebur. Akibatnya, aktivitas penyeberangan dialihkan ke Pelabuhan Malahayati sebagai tempat sementara bersadarnya kapal bantuan.
Enam bulan pasca tsunami, Pelabuhan Ulee Lheue kembali dibangun berkat bantuan dari Pemerintah Australia. Pembangunan pelabuhan kala itu difokuskan untuk melayani kebutuhan transportasi logistik untuk membantu rekonstruksi Aceh dan sekitarnya.
Di Pelabuhan penyeberangan Ulee Lheue terdapat beberapa layanan kapal yang tersedia, yaitu kapal cepat dan kapal berjenis Ro-Ro (Roll On Roll Off) yang dikelola PT ASDP Indonesia Ferry. Kapal ini dapat menampung penumpang serta kendaraan sehingga memudahkan pengguna jasa melakukan mobilisasi antar pulau. Masyarakat bisa dengan mudah membeli tiket kapal ini melalui aplikasi atau website ferizy.com.
Simbol Dahsyatnya Tsunami
Aceh sudah bangkit dari keterpurukan pasca bencana besar. Namun jejak dahsyatnya bencana tsunami masih bisa dirasakan melalui karya apik dari arsitek Indonesia Ridwan Kamil. Museum Tsunami yang juga dikenal dengan “Rumoh Aceh Escape Hill” ini menjadi simbol yang dibangun untuk menggambarkan memori kelam tsunami Aceh. Tahun 2018, Museum Tsunami dinobatkan menjadi museum terpopuler di Indonesia sekaligus menjadi salah satu icon destinasi wisatawan baru di Aceh.